Aqidah Akhlak Bab 1 - Kelas XII
BAB I
NILAI-NILAI MULIA AL AL-ASMA AL- HUSNA
A.
AL-GAFFAR
1.
Pengertian
Al-Gaffār
AlGaffar berasal dari kata gafara yang berarti menutup. Ada juga yang berpendapat bahwa ia diambil
dari kata alGafaru yang artinya tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka.
Jika diambil pendapat yang pertama Allah Swt melalui asmaNya alGaffar
menampakkan kebaikanNya dengan menutupi
keburukan manusia di dunia dengan anugerahNya.
Sementara pendapat yang kedua berarti Allah Swt memberikan anugerah
penyesalan atas dosa bagi hambaNya yang akhirnya penyesalan ini sebagai obat
yang menyembuhkan dan terhapusnya dosa.
Di dalam al
Qur’an kata alGaffar disebutkan sebanyak lima kali dua ayat disebutkan dengan
terpisah yang identik dengan pengampunan dosa seperti di dalam firman Allah
Swt: “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,
sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” (QS. Al Nuh (71)10) Sementara tiga
ayat lainnya disandingkan dengan sifat ‘Aziz.
Hal yang
terakhir ini tidak menunjukkan pengampunan dosa melainkan Allah Swt dengan
alGaffarnya menutupi dosa serta kesalahan dan banyak hal lainnya dari diri
manusia.
2.
Meneladani
Allah dengan sifat al-Gaffār
Imam al-Ghazali
mengartikan alGaffar Allah sebagai Dzat Yang menampakkan keindahan dan
menutupi keburukan. Dosa yang dilakukan oleh seseorang adalah bagian keburukan
yang ditutupi oleh Allah sehingga tidak terlihat oleh orang lain di dunia dan
dikesampingkan kelak di akhirat. Di antara hal yang ditutupi oleh Allah Swt
pada manusia:
Pertama,
tubuh bagian dalam manusia dengan dengan bentuk lahiriah yang indah
Kedua, bisikan dan kehendak hati manusia yang buruk.
Ketiga,
dosa dan kesalahan manusia yang semestinya diketahui oleh khalayak umum.
Dengan demikian
makna alGaffar demikian luas karena mencakup berbagai hal dan bukan hanya
semata-mata tertuju kepada seluruh manusia di muka bumi ini.Kita dapat
meneladani Allah melalui sifat alGaffar ini dengan cara memilki sifat-sifat
berikut :
a.
Senantiasa
memaafkan kesalahan orang lain
Memaafkan atau al ‘afwu dalam bahasa Arab berarti pembebasan dari
tuntutan, kesalahan atau kekeliruan pada seseorang.Di dalam al Qur’an terdapat
tiga puluh tujuh kata al ‘afwu dengan berbagai kata perubahannya. Di dalam al
Quran misalnya dinyatakan: “Dan pema’afan kamu itu lebih dekat kepada
takwa”(QS. Al Baqarah(2):237)
Di dalam hadits dari Abu
Hurairah Rasulullah Saw bersabda: )“Berilah kasih sayang dan berikan maaf,
niscaya Allah Swt mengampuni kalian (HR. Ibnu Majah)
b.
Menampakkan
kelebihan orang lain dengan tidak menampilkan kekurangannya
Menampakkan kebaikan atau kelebihan orang lain juga merupakan
pengamalan dari alGaffar. Dengan melakukan hal ini berarti seseorang
benarbenar mencintai saudaranya dengan sebenar-benarnya.
A.
AL-RAZZAQ
1.
Pengertian
Al-Razzaq
diambil dari kata razaqa atau rizq, yakni rezeki. Hanya saja makna Rezeki
mengalami pengembangan makna sehingga ia juga dapat berarti adanya pangan,
terpenuhinya kebutuhan, honor seseorang, ketenangan ataupun hujan serta
maknamakna lainnya. Dengan demikian rezeki berarti segala pemberian dari Allah
Swt yang dapat dimanfaatkan baik berupa fisik, maupun non fisik.
Dalam al Quran
kata alRazzaq hanya disebutkan satu kali di dalam firman Allah Swt:“Sesungguhnya
Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”(QS.
AlDzariyat(51):58)
Hanya saja banyak ayat yang lain yang
menggunakan akar kata al Razzaq ini yang tersebar di dalam al Quran. AlRazzaq
berarti Allah Swt secara berulang-ulang dan terus-menerus memberikan banyak
rezeki kepada makhlukNya. Dalam hal ini Imam Ghazali berkata:”Allah Swt yang
menciptakan rezeki dan Ia pula yang menciptakan pencari rezeki sekaligus Yang
mengantarkannya serta menciptakan hukum kausalitas sehingga manusia dapat
menikmatinya”
2.
Meneladani
Allah dengan sifat al-Razzāq
a.
Setiaporangsudahdijamin
rezekinya.
Sesungguhnya seluruh makhluk Allah sudah dijamin rezekinya. Manusia
yang mendapatkan rezeki dengan cara-cara yang haram sekalipun sesungguhnya oleh
Allah Swt sudah disediakan rezeki yang halal, tetapi sosok yang bersangkutan
enggan mengambilnya atau kurang puas dengan perolehannya sehingga ia memilih
rezeki yang haram. Allah Swt berfirman: “Dan tidak ada suatu binatang melata
pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezkinya (QS. Hud(11):6) Agama
menganjurkan manusia dalam rangka memperoleh rezeki untuk berusaha semaksimal
mungkin dan apabila terhalangi, maka ia dianjurkan untuk berhijrah.
b.
Berusaha secara maksimal
dan qona’ah
Harus dipahami bahwa jaminan rezeki yang diberikan oleh Allah Swt
disertai dengan usaha.Selain itu kita juga harus menyadari bahwa yang
memberikan jaminan rezeki tersebut adalah Allah Swt Dzat yang menciptakan
makhluk dan hukum alam yang mengatur kehidupannya.Dengan demikian kehendak,
perasaan selera dan instink manusia merupakan rezeki dan dengan hal-hal
tersebut tercipta dorongan manusia untuk berusaha. Setelah manusia berusaha dan
mendapatkan hasil, maka harus diiringi dengan sifat qana’ah atau merasa puas
dengan apa yang diperoleh.
c.
Mengantarkan rezeki kepada orang lain
Dalam rangka meneladani asma Allah al Razzaq sudah sepatutnya
manusia menjadi penyebab sampainya rezeki yang ia terima kepada orang lain.
Semakin banyak orang memberikan rezeki yang ia peroleh kepada orang lain, maka
ia semakin meledani sifat al Razzaq Allah Swt. Meskipun demikian alQuran
tidak menganjurkan seseorang untuk memberikan seluruh rezeki yang diperolehnya
yang bersifat materi kepada orang lain. Dalam hal ini Allah Swt berfirman: “Hai
orangorang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki
yang telah Kami berikan kepadamu (QS. Al Baqarah(2):254)
Ayat tersebut juga
mengisyaratkan bahwa hendaklah sebagian rezeki yang kita peroleh untuk ditabung
untuk biaya-biaya yang tidak terduga. Adapun untuk rezeki yang bersifat non
fisik seperti ilmu pengetahuan, maka tidak ada kewajiban menyimpannya.Karena
ilmu pengetahuan semakin diberikan, maka semakin bettambah bukan berkurang.
C. AL-MALIK
1.
Pengertian
al-Malik
AlMalik secara
umum diartikan dengan kata raja atau penguasa. Kata alMalik terdiri dari huruf
Mim Lam Kaf yang rangkaiannya mengandung makna kekuatan dan Keshahihan. Kata alMalik di dalam alQur’an
terulang sebanyak lima kali dan biasanya diartikan dengan arti raja. Dua dari
ayat tersebut disandingkan kepada kata al- Haq yang berarti pasti dan
sempurna.Hal ini karena kerajaan Allah Swt abadi dan sempurna tidak seperti
kerajaan manusia. Hal ini terlihat dalam firman Alllah Swt : "Maka Maha
Tinggi Allah raja yang sebenarbenarnya" (QS. Thaha (20):114)
Imam al-Ghazali
menyatakan kata alMalik menunjukkan bahwa Allah Swt tidak membutuhkan kepada
segala sesuatu melainkan segala sesuatu membutuhkan diriNya. Tidak hanya itu
bahkan segala wujud yang ada di muka bumi ini bersumber darinya dan ia menjadi
pemilik bagi seluruh wujud tersebut. Dengan demikian Allah Swt adalah raja
sekaligus pemilik.Kepemilikan Allah Swt sangat berbeda dengan kepemilikan
manusia.Kepemilikan manusia terbatas sementara kepemilikan Allah Swt tidak
terbatas. Sebagai misal bisa saja manusia memiliki mobil hanya saja dengan
kepemilikannya tersebut ia memiliki keterbatasan. Tidak mungkin seseorang
dengan senagaja menabrakan mobilnya. Sebab apabila ia melakukan hal ini,
minimal kecaman akan ia peroleh karena manusia harus mempertanggungjawabkan
perbuatannya. Sementara ini tidak
berlaku bagi Allah Swt karena Allah Swt tidak dimintakan pertanggungjawaban
atas perbuatanNya.Allah Swt juga sebagai raja. Raja berarti Dzat yang memiliki hak mengatur terhadap
diriNya maupun sosok lain dengan kekuatan dan kekuasaannya. Manusia bisa saja
menjadi raja tetapi tidak dapat menjadi raja yang mutlak karena hal tersebut
hanya milik Allah Swt.
2.
Meneladani
Allah dengan sifat al-Malik
a.
Manusia memiliki keterbatasan kepemilikan terhadap sesuatu
Dengan asma Allah Swt alMalik ini seharusnya manusia
sadar bahwa dirinya terbatas. Bukan hanya itu harta benda yang mereka
miliki juga terbatas, baik terbatas jumlahnya atau terbatas pemakaiannya.
Manusia hanya bisa memakai harta yang ia milikidi dunia saja. Demikian pula
kepemilikan yang ia miliki juga terbatas. Seseorang bisa saja memiliki karyawan
tetapi ia hanya dapat menguasai sisi lahiriah dari karyawannya tersebut. Ia
tidak dapat menguasai sisi bathinnya.
b.
Bersyukur terhadap nikmat Allah.
Mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kapada manusia
merupakan bentuk pengamalan dari penghayatan seseorang terhadap asama Allah Swt
alMalik. Seseorang akan sadar bahwa pemilik sebenarnya bagi segala sesuatu
adalah Allah Swt. Oleh karena itu ketika seseorang sudah berusaha dengan
maksimal lalu ia memperoleh rezeki, maka ia akan mensyukuri rezeki itu. Ia
tidak akan mengumpat atau mencaci orang lain karena ia sadar bahwa Allah Swt
adalah pemilik sejatinya.
D. AL-HASIB
1.
Pengertian
al-Hasib
AlHasib secara etimologi berasal dari kata hasiba dengan tiga
huruf Arab ha, sin dan ba. Setidaknya terdapat empat kata dalam bahasa Arab,
yaitu menghitung, mencukupkan, bantal kecil dan penyakit yang menimpa kulit
shingga kulit menjadi putih. Hanya saja makna ketiga dan keempat dari kata
alHasib tidak mungkin dilekatkan kepada
Allah Swt. Dalam al Quran kata
alHasib disebutkan empat kali.Tiga terkait dengan Allah Swt dan satu terkait
dengan manusia.Dua ayat yang terkait dengan Allah Swt dapat diartikan dengan
Dzat yang memberi kecukupan. Di antaranya terdapat dalam firman Allah Swt: “Dan
cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan”(QS. Al Ahzab(33):39) Imam al-٩ٗ
Ghazali mengartikan alHasib dengan Dia yang mencukupi siapa saja yang
mengandalkan diriNya. Sifat ini hanya milik Allah karena tidak ada satu
makhlukpun di dunia ini yang dapat mencukupi kebutuhan orang lain. Menurut
alGhazali rezeki yang diberikan oleh Allah Swt
kepada bayi sesungguhnya karena AlHasibnya Allah Swt. Allahlah yang
mencukupi kebutuhan bayi dengan menciptakan ibu yang menyusui, air susunya dan
instink serta keinginan untuk menyusui.
AlHasib dapat diartikan juga dengan menghitung.Jika kata AlHasib
dikaitkan dengan makna menghitung, maka Allah adalah Dzat yang melakukan
perhitungan, baik menghitung amal baik dan buruk seorang manusia dengan cermat
dan teliti sehingga tidak ada yang terleps sedikitpun. Terkadang kata alHasib juga dapat diartikan sebagai pemberi
perhitungan
2.
Meneladani
Allah dengan sifat al-Hasib
a.
Tenang
dan tentram bersama dengan Allah Swt. Seseorang yang memaknai alHasib sebagai
Dzat yang memberi kecukupan, maka ia akan nyaman dan tentram. Ia tidak akan
terganggu oleh bujuk rayu setan lalu menjadi sekutunya dan ia tidak akan sedih
saat harus kehilangan sesuatu, baik berupa materi atau kesmpatan karena ia
yakin dirinya sudah merasa cukup dengan adanya Allah Swt. Allah Swt berfirman:
“Dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah
Sebaikbaik Pelindung”.(QS. Ali Imran(3):173)
b.
Melakukan amal shalih semata-mata karena Allah. Seseorang yang memaknai alHasib dengan
makna perhitungan, maka ia akan meyakini sesungguhnya Allah Swt akan menghitung
amal shalih setiap manusia. Bagi yang meneladaninya, maka terlebih dahulu ia
akan sepenuhnya menyadari bahwa hanya Allah Swt yang memberinya kecukupan.
Dengan demikian segala yang ia lakukan ditujukan semata-mata karena Allah Swt.
Selain itu segala kehendak yang ia lakukan
pasti harus sesuai dengan kehendakNya. Hal ini dilakukan karena ia yakin Allah
Swt telah mencukupkan kebutuhannya.
E. AL-HADI
1.
Pengertian
al-Hadi
Secara etimologi kata alHadi diambil dari akar kata hadaya, yaitu
huruf ha, dal dan ya.Ia dapat diartikan dengan penunjuk jalan karena ia selalu
berada di depan memberi petunjuk. Tongkat bagi orang-orang tertentu misalnya
orang buta dapat dikatakan sebagai alHadi karena ia digunakan mendahului
kakinya sebagai petunjuk ke mana kaki harus melangkah. Selain itu alHadi juga
dapat berarti menyampaikan dengan lemah lembut. Dari makna ini terlahir istilah
hadiah karena hadiah biasanya disampaikan dengan kelembutan sebagai bentuk
simpatik seseorang pada orang lain. Dari kata tersebut juga terlahir kata
alhadyu yang berarti binatang yang disembelih di baitullah sebagai
persembahan. Dalam al-Qur’an kata alHadi yang diserta dengan alif dan lam
tidak ada. Kata yang ada Hadi tanpa alif dan lam sebanyak tiga kali seperti
firman Allah SWT“Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orangorang
yang beriman kepada jalan yang lurus”(QS. Al Haj(22):54) Allah Swt sebagai Al
Hadi berarti Allah Swt yang menganugerahkan petunjuk. Petunjuk Allah Swt kepada
manusia bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri.
2.
Meneladani
Allah dengan sifat al-Hadi
a.
Meyakini bahwa petunjuk Allah Swt banyak
sekali Di dalam kehidupan di dunia, manusia sangat membutuhkan petunjuk.
Petunjuk yang dibutuhkan sangat banyak dan ia harus yakin bahwa Allah Swt
memiliki petunjuk-petunjuk itu. Agama mensyariatkan shalat hajat dan istikharah
karena semata-mata manusia memerlukan eksistensi petunjukNya. Dengan demikian
ketika seseorang melaksanakan shalat hajat atau istikharah, maka secara tidak
langsung ia meminta petunjuk kepada Allah Swt Dzat yang memiliki
petunjukpetunjuk tersebut.
b.
Memberikanpetunjukkepadaoranglaindengansungguh-sungguhdan tanpa pamrih. Bagi yang meneladani asma
Allah alHadi, maka ia akan memberikan petunjuk kepada orang lain dengan
sungguh-sungguh dan tanpa pamrih. Hal ini harus dilakukan karena Allah Swt
dalam memberikan petunjuknya kepada manusia tanpa didasari pamrih. Dengan
demikian orang yang memiliki ilmu berkewajiban menyampaikan ilmunya sebagai
petunjuk untuk membawa orang dari kegelapan menuju cahaya Allah Swt.
F.
AL-KHALIQ
1.
Pengertian
al-Khaliq
AlKhaliq secara etimologi berasal dari kata khalq atau khalaqa yang
berarti mengukur atau menghapus. Kemudian makna ini berkembang dengan arti
menciptakan dari tiada, menciptakan tanpa suatu contoh terlebih dahulu,
mengatur dan membuat. Kata Al Khaliq ditemukan delapan kali di dalam al Qur’an
dan merujuk kepada Allah Swt. Semenatra kata khalq dengan berbagai bentuknya
terulang 150 kali dan secara umum
mempertegas kehebatan dan kebesaran Allah Swt dalam ciptaanNya. Menurut
al-Ghazali meskipun kata AlKhaliq sama dengan AlBari’ yang berarti pencipta,
tetapi keduanya memiliki makna masing-masing.AlKhaliq berarti Allah Swt
mewujudkan sesuatu dengan ukuran yang ditetapkan.Sementara AlBari’ mewujudkan
dari tidak ada menjadi ada saja.Sedangkan Al Mushawwir Dzat yang memberi rupa.
2.
Meneladani Allah dengan sifat Al-Khaliq
a.
Menciptakan hal-hal baru yang lebih inovatif.
Orang yang meneladani asma Allah Swt
alKhaliq dituntut untuk menciptakan hal-hal baru yang inovatif. Hal ini
diperlukan karena proses terciptanya sesuatu memerlukan pengetahuan dan
kemampuan. Pengetahuan dan kemampuan inilah yang harus diberdayakan dalam
rangka menghasilkan produk-produk yang baru yang inovatif. Dengan demikian umat
Islam yang dijuluki oleh al-Quran sebagai sebaik-baiknya umat akan senantiasa
dinamis mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di sepanjang
masa.
b.
Menyakini bahwa Allah Swt pencipta hakiki Di dalam al-Qur’an terkadang
ditemukan kata khalaqna(Kami menciptakan) yang berarti kami menciptakan. Di
sini tentu saja dapat dimaknai ada keterlibatan pihak lain dalam penciptaan.
Sementara ayat al-Qur’an yang menggunakan redaksi khalaqtu(Aku menciptakan)
berarti mutlak kuasa dan wewenang Allah Swt. Meskipun manusia memiliki peran
dalam penciptaan tetapi peran hakiki tetap milik Allah Swt. Dalam dunia
industri misalnya Allah Swt yang menciptakan bahan mentah dan Allah Swt juga
yang memberikan ilham sehinggga manusia dengan keinginan kerasnya dapat
menciptakan sesuatu
G. AL-HAKIM
1.
Pengertian
al-Hakim
AlHakim berasal dari akar kata hakama yang terdiri dari huruf ha,
kaf dan mim yang maknanya secara umum berarti menghalangi. Seperti kata hukum
yang biasanya digunakan untuk menghalangi penganiayaan seseorang pada orang
lain. Selain itu tali kendali yang digunakan untuk mengendalikan hewan.Di dalam
bahasa Arab disebut dengan hakamah karena seseorang yang mengendalikan hewan
dapat menghalangi hewan yang bersangkutan untuk menuju
arah yang diinginkan. Demikian pula kata istilah hikmah yang digunakan untuk
sesuatu yang bijaksana yang apabila diperhatikan insya Allah seseorang akan
selamat. Di dalam al Qur’an kata AlHakim terulang 97 kali dan semuanya mengacu
kepada sifat Allah.AlHakim dipahami oleh mayoritas ulama Allah Swt sebagai
Dzat yang memiliki hikmah.Sementara hikmah berarti mengetahui hal yang paling
asasi, baik dari sisi pengetahuan atau perbuatan. Selain itu hikmah juga bisa
diartikan sesuatu yang apabila digunakan pelakunya tidak akan tertimpa
malapetaka, melainkan ia akan mendapatkan kebajikan yang besar. Oleh karena itu
beruntunglah orang-orang yang mendapatkan hikmah. Allah Swt berfirman: “Dan
barangsiapa yang dianugerahi hikmah itu, maka benarbenar telah dianugerahi
karunia yang banyak”. (QS. AlBaqarah(2): 269) Imam al-Ghazali memahami kata
hakim sebagai pengetahuan tentang sesuatu yang paling utama dan Allah adalah
hakim yang hakiki.
2.
Meneladani
Allah dengan sifat al-Hakim
a.
Memperdalam
ilmu pengetahuan Salah satu dari pengertian alHakim adalah orang yang memiliki
hikmah. Salah satu makna hikmah adalah ketika ia digunakan, maka seseorang akan
selamat. Untuk selamat pasti orang akan memilih jalan yang terbaik dan jalan
yang terbaik hanya dapat ditempuh oleh orang-orang yang berilmu. Di sini terlihat keutmaan orang yang berilmu
dan hal tersebut juga diapresiasi oleh al-Qur’an. Allah Swt berfirma.
Niscaya Allâh
akan meninggikan orangorang yang beriman di antara kalian dan orangorang yang
diberi ilmu beberapa derajat (QS. AlMujadilah(58): 11),
b.
Bertindak profesional dalam hal apapun
Seorang muslim yang meneladani Allah Swt sebagai alHakim bukan hanya sekedar
memiliki ilmu sekedarnya saja, melainkan ia harus memiliki keahlian dan
profesionalaitas khususnya pada bidang-bidang tertentu sehingga ketika ia
mengukuhkan sesuatu tidak dilakukan dengan coba-coba. Selain itu langkahlangkah
yang akan dilakukan sudah tergambar dan menimbulkan kemaslahatan umum. Ketika
ia memberikan ceramah akan terlihat ceramah yang bermutu, efektif dan efisien.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar